Jumat, 06 Januari 2012

IMAM MALIK Nama Lengkap : Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al-Asbahi Lahir : 93 H (712 M) di Madinah Wafat : 14 Rabiul Awal (179 H) di Madinah Gelar : Imam Darul Hijrah Riwayat Pendidikan : Imam Malik terdidik di kota Madinah, pertama kali yang beliau pelajari adalah Alquran, yakni bagaimana cara membaca, memahami dan menafsirkan maknanya. Kemudian beliau menekuni hadis Nabi sehingga beliau mendapat julukan ahli hadis. belajar dari Rabiah ar-ra’yi, kemudian Abdurrahman bin Hurmuz yang merupakan seorang tabiin, ahli qiraah, ahli hadis. Dan untuk pertama kalinya memperoleh pelajaran hukum islam, mendalaminya dengan mempelajari ragam metodologinya. Setelah itu belajar di majlis Yahya bin Said, seorang pakar hukum islam rasionalis di Madinah. Imam Malik juga menekuni ilmu riwayat hadis, mempelajari fatwa para sahabat dan dengan inilah beliau membangun madzhabnya. Guru Imam Malik diantaranya ialah Abdurrahman bin Hurmuz, Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhry, Abu Az-Zanad, Abdullah bin Dzakwan (belajar hadis), Yahya bin Sa’id (belajar ilmu fiqh dan periwayatan), Rabi’ah bin Abdirrahman ar Ra’yi. Adapun murid-murid beliau yaitu Abdurrahman bin Al Qasim Al Mishriy, memiliki peranan penting dalam menulis madzhab Imam Malik, berguru kepada Imam Malik selama hampir dua puluh tahun, meriwayatkan kitab Al-Muwaththa’ dan periwayatnya termasuk yang paling shahih dan wafat pada tahun 192 H. Diantara murid beliau yang lain adalah Asyhab bin Abdul Aziz Al Qaisi,dan Abu Hasan Al Qurthubiy dan Imam Asy Syafi’i. Karya Imam Malik : Di antara karya terbesar Imam Malik adalah : 1. Kitab Al Mudawwanah Al Kubra 2. Kitab Al Muwattha’, yang ditulis tahun 144 H atas anjuran khalifah Ja’far Al Mansur Kitab Al Mudawwanah Al Kubra merupakan kumpulan sebuah risalah yang di dalamnya memuat tidak kurang dari 13306 masalah fatwa fatwa Imam Malik yang telah dikumpulkan oleh As’ad bin Al Furad An Naisaburi (salah satu murid dari Tunisia) selama berada di Irak. Kitab Al-Muwattha’ ditulis pada tahun 144H. Al-Muwattha’ adalah nama sebuah kitab yang lengkap penyusunannya, kitab ini adalah kitab terbesar yang dikarang Imam Malik. kitab ini di nilai sebagai kitab hadis fikih banyak orang yang meriwayatkan kitab Al Muwattha’ dari Imam Malik sepanjang tahun sehingga tarkadang ada beberapa perbedaan dalam penulisan kitab ini, sesuai dangan orang yang meriwayatkannya. Kitab Muwattha bukanlah kitab hadis sebagai mana diketahui, tetapi ia sepakat orang Madinah atau dengan kata lain ilmu fiqih Madinah. Imam Malik menjadikan kitab Al-Muwattha sebagai penjelasan terhadap hadis dari segi ilmiah dan beliau menggunakan pendapatnya bila ia tidak menemui hadis-hadis. Pola Pikir dan karakteristik Imam Malik dalam Penetapan Hukum: Imam malik terkenal dengan Ahlul Hadis karena dipengaruhi oleh tempat tinggalnya yang berada di Madinah. dalam mengambil fatwa hukumnya, dia bersandar kepada kitab Allah untuk pertama kalinya, Kemudian Kepada Assunah. Dan beliau mendahulukan amalan penduduk Madinah dari pada hadis ahad kalau terbukti bertentangan dengan tradisi masyarakat Madinah. Sebab beliau berpendirian bahwa penduduk Madinah itu mewarisi apa yang mereka amalkan dari ulama salaf mereka, dan ulama salafnya mewarisi dari sahabat, maka hal itu lebih kuat daripada hadist ahad. Berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, pemikiran hukum islam Imam Malik cenderung mengutamakan riwayat, yakni mengedepankan hadis dan fatwa sahabat. Pengaruh riwayat yang menonjol adalah penerimaan tradisi masyarakat Madinah sebagai metode hukum. Imam Malik juga termasuk ulama yang sangat teguh dalam membela kebenaran, bahkan dia sangat berani dalam menyampaikan sesuatu yang sudah diyakini kebenarannya, tidak peduli walaupun para penguasa marah dengan ucapannya. Hal itu dapat dilihat ketika beliau menyampaikan fatwa dan ternyata fatwanya bertentangan dengan khalifah Al Mansur dan bani Abbasiyah di Baghdad, Malik pernah disiksa dan dihina. Dan komentar para sejarawan berbeda-beda dalam hal ini yaitu kenapa beliau dipukul, disiksa dan sebagainya. Sebagian pendapat ahli sejarah beliau disiksa karena pendapatanya yang menyebutnya bahwa tidak sah talak orang yang di paksa. Berdasarka hadis Rasulullah, artinya :” tidak sah talak orang yang dipaksa”. Keteguhan Imam Malik terhadap fatwa-fatwa yang telah beliau keluarkan, bukan berarti Imam Malik keras kepala atau ceroboh dalam mengeluarkan fatwa dan hukum. dalam memberikan fatwa, Imam malik hanya akan menjawab masalah yang sudah terjadi dan tidak melayani masalah yang belum terjadi, meskipun ada kemungkinan akan terjadi. Beliau pernah ditanya oleh seseorang tentang masalah yang belum terjadi kemudian Imam Malik menjawab, “tanyakan yang sudah terjadi jangan bertanya yang belum terjadi”. Imam Malik sangat berhati-hati dalam memberi fatwa, tidak mau menjawab pertanyaan yang beliau tidak tahu. Jika beliau tidak dapat memastikan hukum suatu masalah, beliau kan mengatakan saya tidak tahu agar beliau terlepas dari salah fatwa, tidak tergesa-gesa menjawab jika ditanya, dan berkata si penanya,” pergilah nanti saya lihat dahulu”. Imam malik tidak pernah menganggap remeh atau susah suatu masalah yang ditanyakan kepadanya, tetapi semua dianggap berat apalagi ketika terkait halal dan haram. Metode Imam Malik dalam Menetapkan Hukum Di dalam menetapkan hukum imam malik mengambil dasar dari : 1. Al-Qur’an 2. Hadits 3. Tradisi Masyarakat Madinah 4. Ijma’ 5. Fatwa Sahabat 6. Qiyas 7. Aslahah Mursalah 8. Syadz Ad-dzari’ah 9. ‘Urf Diantara murid Imam Malik yang terkemuka dan berperan penting dalam penyebaran Mazdhab Maliki ialah: • Abdullah bin Wahab, ia pernah belajar pada Imam Malik selama 20 tahun dan menyebarkan Mazdhab Maliki • Abdurrahman bin Qasim, ia belajar pada Imam Malik selama 20 tahun dan ia sangat berjasa dalam membukukan pendapat Imam Malik • Asyhab bin Abdul Aziz Alqaisi Alamiri, ia menyusun kitab yang dinamakan Mudawwanah Asyhab atau Kutub Asyhab • Asad bin Furat bin Siran • Abdul Malik bin Almajisun • Imam Assyafi’i (pendiri Madzhab Syafi’i) Adapun sahabat-sahabat Imam Malik dan pengembangan madzhabnya diantara ulama-ulama mesir yang berkunjung ke Madinah dan belajar ke Imam Malik ialah : 1. Abu Muhammad Adullah bin Wahab bin Muslim 2. Abu Abdillah Abdurrahman bin Qasim Al-Utaqy 3. Ashab bin Abdul Aziz Al-qaisi 4. Abu muhammad Abdullah bin Abdul Hakam 5. Asbagh bin Farj Al-Umawwi 6. Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam 7. Muhammad bin Ibrahim bin Ziyad Al-Iskandari Adapun ulama-ulama yang mengembangkan madzhab Maliki di Afrika dan Andalus adalah : 1. Abu Abdillah Ziyad bin Abdurrahman Al-Qurtubi 2. Isa bin Dinar Al-Andalusi 3. Yahya bin Yahya bin katsir Al-Laisi 4. Abdul Malik bin Habib bin Sulaiman As-Sulami 5. Abdul Hasan Ali bin Ziyad At-Tunisi 6. Asad bin Furat 7. Abdussalam bin Sait At-Tanukhi. IMAM SYAFI’I Nama Lengkap : Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin as-Saib bin Ubay bin Abu Zayd bin hasyim bin al-Muthollib bin Abdul Manaf bin Qushay. Lahir : Gaza,150 H Wafat : Mesir, 204 H Pendidikan Imam Syafi’I : Imam as-syafi’i sudah menghafal al-quran sejak beliau berusia 9 tahun, saat itu beliau masih berada di Gaza, dan ketika beliau berada di Makkah, beliau mulai belajar hadis dari beberapa guru hadis. Beliau juga sangat rajin menghafal dan menulis sunnah rasulullah, setelah itu beliau pergi ke pelosok desa untuk belajar bahasa dari kabilah Hudhail, beliau menghafal syair dan cerita kabilah dan menekuni bahasa arab yang bisa menbantu beliau dalam memahami kandungan Al Qur’an. Pada usia yang ke 20 beliau meninggalkan Makkah dan belajar ilmu fikih di Madinah kepada imam Malik, beliau merasa masih belum puas dan bertekad memperluas wawasan keilmuanya dengan pergi ke Irak untuk mempelajari ilmu fikih dari murid imam Abu Hanifah yang masih ada. Kemudian Imam As-Syafi’I kembali ke Makkah untuk belajar agama, ketika beliau mendengar di Madina ada Imam Malik bin Anas beliaupun ingin segera pergi dan menemuinya, Imam As-Syafi’I pergi ke Madinah setelah beliau menghafal kitab Al Muwatha’ karya Imam Malik, beliupun bertemu dan belajr denganya. Setelah wafatnya imam Malik padatahun 179 Hijriyah beliau kemudian pergi ke Yaman, menetap dan mengajarkan ilmu disana. Disana beliau bertemu dengan Umar bin Abi Salamah, seorang ahli fikih murid imam Al Auza’I, dan dengan begitu secara tidak langsung beliau sudah mengambil fikihnya. Selain itu beliau juga bertemu dengan Yahya bin Hassan, sahabat Al-Laits bin Sa’d, seorang ahli fikih dari Mesir dan belajar kepadanya. Padatahun 184 H beliau dibawa ke Baghdad karena dituduh menentang Dinasti Abbasiyyah, tetapi tuduhan tersebet tidak terkbukti dan ternyata kedatangan beliauke Baghdad ini telah menjadi berkah tersendiri, karena beliau disana dapat bertemu dengan para fuqoha’, seperti Muhammad bin Al-Hasan As-Syaibani yang merupakan sahabat Imam Abu Hanifah. Dari As-Syaibani beliaupun belajar fikih sehingga dapat menggabungkan fikih Hijaz dan Irak. Imam As-Syafi’i telah banyak menimba ilmu kepada beberapa guru di berbagai kota dan negeri. Guru pertama Imam Syafi’i adalah Muslim bin Khalid Az-Zanji dan imam-imam lain dari Makkah. Guru-guru Imam Syafi’i 1. Guru-guru beliau di Makkah : Muslim bin Khalid Az-Zinzi, Sufyan bin Uyainah, Said bin Al Kudah, Daud Abdurrahman Al-Attar dan Abdul Hamid bin Abdul Aziz bin Abi Daud. 2. Guru-guru beliau di Madinah : Malik bin Anas, Ibrahim bin Sa’ada Al-Anshari, Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Daudi, Ibrahim bin Yahya Al-Usmani, Muhammad Said bin AbiFudaik, dan Abdullah bin Nafi’ As-Saigh. 3. Guru-guru beliau di Yaman : Maatraf bin Mazin, Hisyam bin Yusuf, Umar bin Abi m 4. Guru-guru beliau di Iraq : Muhammad bin Al-Hasan Waqi’ bin Al-Jarrah Al-Kufi, Abu Usamah Hamad bin Usamah Al-Kufi, Ismail bin Attatiah Al-Basri Abdul Wahab bin Abdul Majid Al-Basri. Murid-murid Imam Syafi’i 1. Murid-muridbeliau di Makkah : Abu Bakar Al-Huamaidi, Ibrahim bin Muhammad Al-Abbas, Abu Bakar Muhammad bin Idris, dan Musa bin Al Jarut, 2. Murid-muridbeliau di Baghdad : Al-Hasan As-Sabah Az-Za’fari, Al-Husin bin Ali Al-Karabisyi, Abu Thur Al-Kulbi, dan Ahmad bin Muhammad Al-Asy’ari Al-Bashri. 3. Murid-muridbeliau di Mesir :Hurmalah bin Yahya Al-Buwaiti, Ismail bin YahyaAl-Mizani, Muhammad bin Abdullah bin Abdul HkamdanAr-Rabi’in Al-Jizi. Karangan Imam Syafi’i Al- Umm, Al- Hujjah, Al- Wasaya, Al-kabiroh, IkhtilafAhli Iraq, Wassiyyatu As-Syafi’IJami’alIlmi, Ibtal Al-Isttihsan, Jami’alMizan As-Saghir Al-Amali, MukhtasarAr-Robi’ Walduwaiti, Al-Imla, dll. Metode Istinbat Imam Syafi’i Di dalam menetapkan hukum Imam Syafi’i mengambil dasar dari : 1. Al-Qur’an 2. As-Sunah 3. Ijma’ 4. Qiyas ›› Qaul Qadim dan jadid Imam Syafi'i pada awalnya pernah tinggal menetap di Baghdad. Selama tinggal di sana ia mengeluarkan ijtihad-ijtihadnya, yang biasa disebut dengan istilah Qaul Qadim ("pendapat yang lama"). Ketika kemudian pindah ke Mesir karena munculnya aliran Mu’tazilah yang telah berhasil memengaruhi kekhalifahan, ia melihat kenyataan dan masalah yang berbeda dengan yang sebelumnya ditemui di Baghdad. Ia kemudian mengeluarkan ijtihad-ijtihad baru yang berbeda, yang biasa disebut dengan istilah Qaul Jadid ("pendapat yang baru"). Imam Syafi'i berpendapat bahwa tidak semua qaul jadid menghapus qaul qadim. Jika tidak ditegaskan penggantiannya dan terdapat kondisi yang cocok, baik dengan qaul qadim ataupun dengan qaul jadid, maka dapat digunakan salah satunya. Dengan demikian terdapat beberapa keadaan yang memungkinkan kedua qaul tersebut dapat digunakan, dan keduanya tetap dianggap berlaku oleh para pemegang Mazhab Syafi'i. IMAM HAMBALI Nama Lengkap : Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy Syaibani. Lahir : Baghdad pada bulan rabi’ul Awwal tahun 164 H (780 M), Wafat : 12 Rabi’ul Awwal 241 H (855) di usianya yang ke-77 Sejarah intelektual Imam Ahmad Bin Hanbal: Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang ulama dan intelektual Muslim penting dalam sejarah peradaban Islam. Ia dikenal sebagai ulama yang berotak brilian. Kecerdasannya diakui para ulama besar di zamannya. Penulis sederet kitab penting bagi umat Islam itu juga dikenal sebagai seorang ulama yang berilmu tinggi, saleh, dan berakhlak mulia. Kemuliaan yang ada dalam diri Imam Ahmad bin Hanbal telah membuat guru-gurunya kagum dan bangga. "Setelah saya keluar dari Baghdad, tak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih saleh, dan yang lebih berilmu daripada Ahmad bin Hanbal," ujar Imam Syafi'i, sang guru. Imam Syafi'i menjuluki muridnya itu sebagai imam dalam delapan bidang. "Ahmad bin Hanbal adalah Imam dalam hadis, Imam dalam fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Alquran, Imam dalam kefakiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara', dan Imam dalam sunah," tutur Imam Syafi'i. Sebuah pengakuan yang tulus dari seorang guru kepada murid yang dibanggakannya. Ilmu pertama yang dipelajarinya secara khusus adalah agama. Ia berguru pada Abu Yusuf--murid terkemuka sekaligus sahabat Abu Hanifah. Setelah mempelajari fikih, Ahmad bin Hanbal lalu menimba ilmu hadis. Ia melanglang buana dari satu negeri Islam ke negeri lainnya demi mendapatkan ilmu yang dicarinya. Petualangan menimba ilmu itu dilakukannya saat dia berusia 16 tahun. Gurunya terbilang sangat banyak. Ibnu Al-Jawzi menuturkan, Imam Ahmad bin Hanbal memiliki 414 guru hadis. Beberapa gurunya yang terkenal, di antaranya Ismail bin Ja'far, Abbad bin Abbad Al-Ataky, Umari bin Abdillah bin Khalid, Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami, Imam Syafi'i, Waki' bin Jarrah, Ismail bin Ulayyah, Sufyan bin `Uyainah, Abdurrazaq, serta Ibrahim bin Ma'qil. Salah seorang guru yang paling dicintainya adalah Imam Syafi'i. Ia begitu bangga kepada kemampuan sang guru yang luar biasa dalam ilmu fikih. Setelah mencurahkan waktunya selama 40 tahun untuk menimba ilmu agama, Imam Ahmad bin Hanbal pun menjadi ulama yang berpengaruh. Ia menduduki jabatan penting dalam masyarakat Islam saat itu, yakni sebagai Mufti. Imam Ahmad bin Hanbal dalam ilmu hadis sudah tak perlu diragukan. Ia adalah seorang ulama yang sangat ahli dalam ilmu yang satu ini. Kitab Al-Musnad Al-Kabir--ensiklopedia hadis--yang sangat monumental, ini memuat tak kurang dari 27 ribu hadis. Ini merupakan karya masterpiece sang Imam dan penelitian hadis yang dinilai terbaik. Dalam bidang fikih, Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sebagai pendiri Mazhab Hambali. Ia sungguh beruntung karena bisa belajar dari ahli fikih termasyhur yang juga dikenal sebagai pendiri tiga mazhab lainnya, seperti Abu Hanifah (Imam Hanafi), Imam Syafi'i, dan Imam Maliki. Imam Hambali telah melakukan improvisasi dan pengembangan dari mazhab-mazhab sebelumnya. Sang Imam pun sangat ahli dalam urusan bahasa dan sastra. Ia sangat berjasa dalam pengembangan bahasa Arab. Selain ahli dalam tata bahasa, Imam Ahmad bin Hanbal juga dikenal pandai merangkai kata menjadi syair dan puisi. Pengetahuannya tentang ilmu Alquran juga sungguh luar biasa. Sebagai Imam dalam ilmu Alquran, Ahmad bin Hanbal sangat menguasai Tafsir Alquran. Ia pun ahli dalam ilmu Al-Nasikh wal Mansukh. Karya Imam Hanbali : • Kitab Al Musnad Al-Kabir: memuat lebih dari 27 ribu hadis • Kitab at-Tafsir. Menurut Adz-Dzahabi, kitab ini telah hilang. • Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh • Kitab at-Tarikh • Kitab Hadis Syu'bah • Kitab al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi Alquran • Kitab Jawabah Alquran • Kitab al-Manasik al-Kabir • Kitab al-Manasik as-Saghir • Kitab al-'Ilal • Kitab al-Manasik • Kitab az-Zuhd • Kitab al-Iman • Kitab al-Asyribah • Kitab al-Fadha'il Metode Ijtihad Imam Hanbali : Di dalam menetapkan hukum imam Hanbali menggunakan dasar berikut ini : Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziah, prinsip dasar Mazhab Hanbali adalah sebagai berikut: 1. An-Nusus (jamak dari nash), yaitu Al-Qur'an, Sunnah Nabi SAW, dan Ijma'; 2. Fatwa Sahabat; 3. Jika terdapat perbedaan pendapat para sahabat dalam menentukan hukum yang dibahas, maka akan dipilih pendapat yang lebih dekat dengan Al-Qur'an dan sunnah Nabi SAW; 4. Hadits mursal atau hadits daif yang didukung oleh qiyas dan tidak bertentangan dengan ijma'; dan 5. Apabila dalam keempat dalil di atas tidak dijumpai, akan digunakan qiyas. Penggunaan qiyas bagi Imam Ahmad bin Hanbal hanya dalam keadaan yang amat terpaksa. Prinsip dasar Mazhab Hanbali ini dapat dilihat dalam kitab hadits Musnad Ahmad ibn Hanbal. Kemudian dalam perkembangan Mazhab Hanbali pada generasi berikutnya, mazhab ini juga menerima istihsan, sadd az-Zari'ah, 'urf; istishab, dan al-maslahah al-mursalah sebagai dalil dalam menetapkan hukum Islam. IMAM JA’FAR SHODIQ Nama lengkap : Ja’far bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib Lahir : 80 H/699 M Gelar : Assadiq, Alfadil, Athtahir akan tetapi yang paling terkenal adalah gelarnya sebagai Assadiq. Sejarah intelektual imam ja’far shodiq Imam Ja’far mempelajari ilmu-ilmu keagamaan dari kakeknya, yaitu Ali Zainal Abidin selama 15 tahun. Namun, setelah kakeknya meninggal dunia pada tahun 94 Hijriah, ia terus dibina oleh ayahnya sendiri, Muhammad Al-Baqir. Ja’far Ash-Shadiq adalah seorang ulama besar dalam banyak bidang ilmu, seperti ilmu filsafat, tasawuf, fiqih, kimia, dan ilmu kedokteran. Beliau adalah Imam yang keenam dari dua belas imam dalam madzhab syi’ah Imamiyyah. Dikalangan kaum Sufi, beliau adalah guru dan syaikh yang besar dan dikalangan ahli kimia, beliau dianggap sebagai pelopor ilmu kimia. Dan Ja’far Ash-Shadiq adalah guru dari Jabir bin Hayyam, yaitu ahli kimia dan kedokteran Islam.Dalam madzhab Syi’ah, fiqh Ja’fari lah sebagai Fiqih mereka. Wawasan beliau juga sangat luas meliputi kitab-kitab terdahulu, semacam taurat, injil dan pengetahuan nabi-nabi terdahulu. Imam ja’far mengalami pemerintahan dinasti umayyah dan dinasti ‘abbasiyyah. Sebagai orang yang salah satu Imam Syiah yang keenam, imam ja’far kurang perhatian dengan kehidupan politik, ia tenggelam dalam dunia ilmu. Abu Zuhrah berkata: “Ja’far Ash-Shadiq berpandukan kitab Allah SWT.(Al-Qur’an), pengetahuan serta pandangan beliau sangat jelas, beliau mengeluarkan hukum-hukum fiqih dari nash-nashnya, beliau berpandukan kepada sunnah, sesungguhnya beliau tidak mengambil melainkan hadis riwayat ahli al-bait (keluarga Nabi). A. Metode Ijtihad Madzhab Ja’fari Diantara karekteristik khas dari madzhab Ja’fari, adalah hal-hal berikut: 1. Sumber-sumber hukum Islam adalah Al-Qur’an, As-Sunnah, dan akal. Termasuk ke dalam sunnah adalah sunnah Ahlulbait, yakni para Imam yang terjaga dari dosa. Mereka tidak mau menjadikan dalil pada hadis-hadis yang diriwayatkan para shahabat yang memusuhi para Ahlulbait. 2. Dalam memahami Al-Qur’an, madzhab Ja’fari tidak selalu berpegang pada makna lahirnya, tetapi juga makna bathin Al-Qur’an, makna bathin ini hanya bisa diungkapkan oleh para Imam kaum Syi’ah. 3. Ijma’ adalah konsensus ulama dari suatu madzhab dikalangan ummat, Ijma’ hanya dipandang sebagai penjelas suatu hadis, bukan argumen yang mandiri. 4. Istihsan tidak boleh dipergunakan. Qiyas hanya dipergunakan bila illatnya terdapat dalam teks sumber hukum.Pada hal-hal yang tidak terdapat ketentuan teks sumber hukumnya, digunakan akal berdasarkan kaidah-kaidah tertentu. 5. Al-Qur’an dipandang telah lengkap menjawab seluruh persoalan agama. Tugas mujtahid adalah mengeluarkan jawaban-jawaban umum untuk masalah-masalah yang khusus dari Al-Qur’an. Karena Nabi Muhammad SAW. dan para Imam adalah orang yang mengetahui rahasia-rahasia Al-Qur’an, maka penafsiran Al-Qur’an yang paling absah adalah yang berasal dari mereka. Berkenaan dengan akal, madzhab ja’fari memandangnya tidak dapat di pisahkan dengan wahyu. Artinya, hukum apapun di tetapkan oleh akal juga di tetapkan oleh syariat. B. Pengaruh Madzhab Ja’fari Imam ja’far memiliki pengaruh yang luas di masyarakat, karena pengaruhnya ini, Imam Ja’far berulang kali hendak dibunuh oleh penguasa. pada Akhirnya, Imam Ja’far wafat karena racun yang di masukkan ke dalam makanannya atas perintah Khalifah Al-Manshur. Imam ja’far memiliki banyak murid, antara lain : Sufyan al-Tsauri, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Ibnu Jarih, Syu’bah, bahkan fisikawan muslim terkenal, Jjabir bin Hayyan. Murid-murid imam ja’far ini menjadi ulma’ besar, bahkan pendiri madzhab. Akan tetapi, penyebar dan pengembang madzhab ja’fari ini hanya golongan syiah. Pegangan madzhab ja’fari adalah al-kafi karya abu ja’far al-kulaini, man la yahdluruhu al-faqih karya Abu ja’far al-Qummi, al-Tahdzib dan al-Ibtishar keduanya karya muhammad bin hasan al-Thusi. Madzhab Ja’fari berkembang di Iran, Irak, India, Pakistan, Nigeria, Somalia dan beberapa negara islam yang lain. IMAM DAUD ADH-DHAHIRI Nama lengkap : abu sulaiman daud bin ali bin khalaf al-asbahani al-baghdadi. Lahir : kufah, 202 H Wafat : 270H Sejarah intelektual imam daud Daud adhahiri adalah pengikut madzhab syafii dalm bidang fiqih. Ia sangat mengidolakan imam syafii sebab imam syafii memiliki kehebatan dalam bidang alquran dan sunah. Ia juga mempelajari hadis dari para ahli hadis yang sezaman dengannya. Salah satu gurunya adalah ishaq bin ruhawiyah. Ia banyak mendapatkan hadits dari baghdad dan naisabur. Meskipun pada awalnya daud mengagumi syafii, tapi pada akhirnya ia mengkritisi pendapat syafii, alasannya karena menurut ima syafii nash dapat di pahami secara tersurat ataupun tersirat. Oleh sebab itu ia memiliki mazhab sendiri yaitu adh-dhohiri. Madzhab ini mendapat kecemerlangan pada abad ketiga dan keempat hijriyah. Ajarannya tersebar di iran, irak, oman dan sind. Sampai madzhab ini terkenal dari madhab lainnya. Sejarah juga mencatat bahwa madzhab ini telah berkembang di dunia barat tepatnya di spanyol. Selain itu juga pernah madzhab resmi di negara maroko. Murid-murid imam daud Abu bakar muhammad, zakariya ibn yahya al-saji, yusuf ibn ya’qub ibn mahran al-daudi dan al-abbas ibn ahmad al-mudzakir. Kitab karangan imam daud ibhtal al-qiyas, khabar al-wahid, al-mujib fi al-ilmi, al-khusus wa al-umum, al-mufasar wa al-mujmal dan ibhtal al-taqlid. Metode ijtihad imam daud dan pemikirannya. Pedoman yang dijadikan oleh imam daud dalam menetapkan suatu hukum adalah : a. Alquran b. Hadis c. Ijma sahabat Selain itu imam daud menentang orang yang mealkukan taqlid. Ia berpendapat bahwa setiap orang islam harus bisa berfikir sendiri, namun seandainya saja masih tidak mengerti , maka orang tersebut harus bertanya kepada orang yang telah memahami masalah itu. Menururt pendapatnya, yang digunakan dari alquran dan hadis adalah makna yang dhahir dan makna yang tersurat, ia sangat menentang makna yang tersirat dalam memaknai alquran dan hadis. Dalam hal ini akal di larang ikut campur. Dalam menolak qiyas, ia berpendapat bahwa awal mula yang melakukan qiyas adalah iblis. Meskipun kelihatannya imam daud menentang qiyas , sebenarnya ia tidak serta merta menolak qiyas secara keseluruhan. Qiyas yang di tolak imam daud adalah qiyas khafi, sedangkan untuk qiyas jali ia menerimanya. IMAM HANAFI Nama : abu hanifah an-nukman bin tsabit zuhdi at-tamimi. Lahir : kufah, 80 H/ 699 M Wafat : 150 H Sejarah intelektual imam hanafi Beliau belajar fiqih kepada ulama aliran rasionalis dari Kufah yakni Hammad bin Abu Sulaiman selama tidak kurang dari 18 tahunyakni sejak berumur 22 hingga 40 th dikarenakan wafatnya sang guru pada tahun 120 H.Pada tahun 130 H, Imam Abu Hanifah meninggalkan Kufah Menuju Makkah untuk mempelajari hadis-hadis Nabi SAW serta mendalami ilmu-ilmu yang lainnya, beliau berguru pada ‘Atha’ bin Abi Rabah dan Nafi’ pembantunya Ibnu Umar yang termasuk dalam golongan tabi’in. Dalam ilmu fiqih,beliau lebih berkonsentrasi pada empat jenis ilmu fiqih, yaitu : 1. Fiqih Umar bin Khattab yang berlandaskan konsep maslahat,istinbat,dan memperdalam pemahaman hakikat syari’at. 2. Ilmu Ibhnu Abbas yang berisi Al-qur’an & fiqhnya. 3. Ilmu Ali bin Abi Thalib. Serta Ilmu Fiqh Abdullah bin Mas’ud. Latar belakang pemikiran Imam Abu Hanifah diantaranya : 1. Kepribadian Beliau adalah seorang pemikir dalam masalah – masalah yang begitu kompleks dan tidak hanya mengulas masalah itu secara dhahir juga tidak berdasarkan sumber hukum secara tekstual saja.Beliau juga mencari illat suatu masalah yang terkandung dalam hukum – hukum yang ada. 2. Pelajaran dan pengalaman khusus beliau Pada mulanya Imam Abu Hanifah adalah seorang pedagang.semenjak muda beliau terbiasa berdiskusi ataupun terlibat dalam sebuah perdebatan dalam mencari ilmu . 3. Masa dimana beliau hidup Imam Abu Hanifah hidup pada masa Bani Umayyah dan bani Abbasiyah, pada masa Bani Umayyah beliau memperdalam ilmu dan belajar berfikir kritis, sedangkan pengembangan ilmu di lakukan pada masa Bani Abbasiyah, Beliau tidak berkecimpung dalam dunia politik yang mempunyai idealisme yang berbeda-beda terutama dalam hal aqidah pemikiran Abu Hanafi : 1. Pertimbangan beliau dalam mengeluarkan pendapat adalah qiyas, istikhsan, mashlakhatul mursalah, serta al-urfu. Jika memang tidak ditemukan dalam al-Quran dan Hadis. 2. Sikap antisipatif dari imam Abu Hanifah dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. 3. Dialog dan diskusi imam Abu Hanifah Gaya pengajaran imam abu hanifah adalah dengan cara dialog. Seperti metode Analisis,Observasi illat dan menelaah dalil 4. Lebih netral dalam bersikap ›› Perkembangan Mazhab Hanafi Mazhab ini telah dijadikan sebagai mazhab resmi pada Pemerintahan Dinasti Abbasiah selama lebih dari lima abad . Karena ketika pemerintahan khalifah Harun Arrasyid ada salah satu murid Abu Hanifah yaitu Abu Yusuf yang diangkat sebagai hakim di Baghdad. Mazhab Hanafi memiliki khazanah teori yang banyak dan bernilai tinggi dengan ciri utama yaitu adanya kupasan masalah secara mendalam dan teliti. Mazhab Hanafi tersebar di Berbagai negara, bahkan di Irak yang mana menjadi mazhab resmi terutama disekitar sungai Eufrat walaupun tidak dominan dalam masalah ibadah. Mazhab ini mulai tersebar di Kufah, Bahgdad, Mesir, Persia, Syam, Romawi, Yaman, India, Cina, Bukhara, Afganistan, Kaukasus, Turkistan. Mazhab ini juga menjadi referensi dalam mengeluarkan fatwa oleh negara-negara yang pernah tunduk dibawah kekuasaan Turki Utsmani hingga saat ini. Kitab Fiqh Hanafiyah Imam Abu Hanifah tidak menulis kitab secara langsung kecuali beberapa risalah kecil yang dinisbahkan kepadanya seperti risalah yang diberi nama al-Fiqh al-Akbar dan al- ‘Alim wa al-Muta’alim.. Diantara murid-muridnya yang paling berjasa dalam pembukuan tentang pemikiran dan pendapat Abu Hanifah adalah Imam Abu Yusuf dan muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani. Abu Yusuf memiliki banyak karya kitab namun ada enam karya yang dijadikan sebagai bahan rujukan utama fiqh, yaitu: kitab al-Asli atau al-Mabsuth, kitab az-Ziyadat, kitab al-Jami’ as-Saghir, kitab al-Jami’ al-Kabir, kitab as-Sair as-Saghir dan kitab as-Sair al-Kabir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar